Calon Kepala Daerah di Kabupaten Rokan Hilir Asri Auzar dan Afrizal Sintong diduga menggunakan ijazah palsu. Dalam mempertanyakan dugaan " />
www.beritaintermezo.com
11:40 WIB - Bawaslu Bersama Polres Pelalawan Lepas Tim Pengawasan Anti Money Politik | 11:00 WIB - PWI Riau & SPS Gelar Tiga Kegiatan Virtual | 08:32 WIB - DKP Kota Bengkulu Kembali Membagikan Bantuan Mesin Kapal BBG Kepada Nelayan. | 07:39 WIB - Pengesahan APBD 2021 Pekanbaru Hujan Interupsi, Dewan Sebut Pimpinan Pembohong | 13:04 WIB - Pimpin Deklarasi Pilkada Bersih, Bupati Irwan Ajak Masyarakat Jaga Nilai Demokrasi | 12:27 WIB - Gubernur Riau Syamsuar Terkonfirmasi Positif Covid-19
Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Gelar Aksi ke Bawaslu Riau, Pertanyakan Ijazah Asri Auzar dan Afrizal,
Selasa, 17-11-2020 - 08:23:16 WIB

TERKAIT:
 
  • Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Gelar Aksi ke Bawaslu Riau, Pertanyakan Ijazah Asri Auzar dan Afrizal,
  •  

    Pekanbaru (Beritaintermezo.com)-Calon Kepala Daerah di Kabupaten Rokan Hilir Asri Auzar dan Afrizal Sintong diduga menggunakan ijazah palsu. Dalam mempertanyakan dugaan tersebut, Gerakan Pilkada Berintegritas Riau 2020 menggelar aksi damai di Kantor Bawaslu Provinsi Riau, Jalan Adisucipto, Pekanbaru, Senin (16/11/2020).

    Gerakan moral dari kalangan mahasiswa dan pemuda ini sebagai bentuk pengawalan atas pelaksanaan pilkada serentak di Riau yang berlangsung di 9 kabupaten/ kota pada 9 Desember mendatang. Dalam aksi perdananya ini, Gerakan Pilkada Berintegritas mengangkat isu dan temuan yang terjadi pada Pilkada di Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

    "Pilkada berintegritas hanya bisa dicapai dengan syarat penyelenggara Pilkada dan peserta paslon yang berintegritas. Jadi perlu untuk menelusuri rekam jejaknya,"  kata koordinator aksi Gerakan Pilkada berintegrasi Riau 2020 Pagar SH.

    Aksi yang dilakukan tetap mematuhi protokol kesehatan yakni menggunakan masker dan menjaga jarak. Oleh sebab itu, jumlah peserta aksi damai ini dibatasi hanya 20 orang.

    "Ini adalah gerakan moral dan protokol kesehatan tetap kami terapkan ditengah pandemi saat ini. Cukup hanya 20 peserta tetapi yang utama adalah aksi damai tersampaikan ke publik dan juga penyelenggara pilkada di Riau," tegas Pagar.

    Ia mengatakan, tahap awal pihaknya mengemukakan tentang sejumlah indikasi dan temuan awal diperoleh dari pelaksanaan pilkada di Rokan Hilir. Gerakan ini akan terus menggelinding ke 8 daerah Kabupaten/kota di Riau lainnya yang menggelar pilkada serentak.

    Adapun indikasi temuan yang diperolah pihaknya yakni terkait adanya kecurigaan terhadap penggunaan ijazah pendidikan dari dua peserta pilkada  yakni Asri Auzal calon bupati Rohil dan Afrizal Sintong calon bupati Rohil.

    Menurutnya dari hasil penelusuran dokumen dan informasi ada kejanggalan yang memicu kecurigaan. Asri Auzar tidak menggunakan ijazah akademik S1 (SH) dan gelar S2 (MSi) miliknya.

    Diketahui pada saat pendaftaran awal, Asri menyertakan kedua ijazah tersebut. Kedua ijazah tersebut (S1 dan S2) juga dipakainya saat mencalonkan diri dalam pemilu legislatif DPRD Riau pada tahun 2019 dan Asri terpilih sebagai anggota DPRD Riau.

    Namun, kata Pagar saat penetapan calon Bupati dan Wakil Bupati, KPU Rokan Hilir tidak mencantumkan ijazah S1 dan S2 milik Asri tersebut. Pihaknya menduga terjadi penarikan dokumen ijazah pada proses perbaikan berkas administrasi calon kepala daerah sebelum calon ditetapkan. Hal ini bisa dilihat dari Keputusan KPU Rokan Hilir nomor: 178/PL.02.3-Kpt/1407/KPU-Kab/IX/2020 tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Rikan Hilir, dimana KPU Rohil yang hanya menetapkan nama H. Asri Auzar, tanpa disertai gelar S1 dan S2.

    "Ini menimbulkan pertanyaan publik sekaligus kecurigaan publik. Sehingga kami berharap pihak terkait dan aparat hukum menelusuri soal ijazah ini. Bagi kami, integritas calon kepala daerah amat penting," tegas Pagar usai aksi tersebut.

    Temuan selanjutnya, kata Pagar yakni pada ijazah pendidikan yang dipakai oleh calon bupati Afrizal. Dari hasil penelusuran ada kejanggalan yang serius pada penggunaan ijazah Paket C yang dipakai oleh Afrizal pada saat ia mencalonkan diri dan terpilih sebagai anggota DPRD Rokan Hilir periode 2014-2019 lalu.

    Diketahui, proses pendaftaran sebagai caleg saat itu dilakukan pada tahun 2013. Dari penelurusan yang dilakukan, Afrizal diduga baru memiliki ijazah Paket C yang diterbitkan pada 20 September 2014 oleh Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru.

    "Yang menjadi pertanyaan, ijazah apa yang dipakai oleh Afrizal saat mendaftar caleg pada tahun 2013 tersebut? Sementara ijazah Paket C Afrizal diduga baru terbit pada 20 September 2014, jauh setelah proses pendaftaran caleg selesai. Ini kan aneh," kata Pagar.

    Ia juga mempertanyakan KPU Rokan Hilir pada tahun 2013 yang meloloskan Afrizal sebagai caleg saat itu. Pada pemilu 2014, Ketua KPU Rokan Hilir dijabat oleh Azhar Syakban alias Wak Atan. Azhar Syakban alias Wak Atan adalah ayah kandung dari Sulaiman yang merupakan calon Wakil Bupati Rokan Hilir mendampingi Afrizal sebagai calon Bupati Rokan HIlir pada pilkada Rohil 2020 tahun ini.

    "Kami tidak menuduh dan menjustifikasi temuan soal ijazah kedua calon bupati tersebut. Kami hanya meminta agar aparat dan otoritas terkait melakukan penelusuran dan proses lebih lanjut. Karena memang diduga ada kejanggalan yang serius dan perlu diklarifikasi," kata Pagar.

    Pagar juga mempertanyakan soal dana beasiswa mahasiswa Rokan Hilir yang sempat diprotes dan didemo oleh mahasiswa beberapa hari lalu. Tudingan mahasiswa yang menyebut adanya penyimpangan dan double penerimaan dana beasiswa oleh sejumlah mahasiswa tertentu semestinya didalami oleh aparat terkait.

    "Dalam hal ini patut pula ditelusuri apakah ini terkait dengan pasangan inkumben. Dan harus dibuktikan apakah ada unsur kerugian negara dari tuduhan penyimpangan yang dilayangkan oleh para mahasiswa tersebut," kata Pagar.

    Pihaknya juga menyerukan kepada penyelenggara Pilkada di Rohil yakni Bawaslu dan KPU Rohil untuk memastikan bisa bekerja secara adil dan netral. Soalnya, tanpa independensi dan netralitas penyelenggara pilkada di Rohil, maka kompetisi tidak berlangsung secara fair.

    "Kami minta adanya supervisi dan pemantauan khusus terhadap penyelenggara pilkada di Rohil. Ini untuk memastikan soal isu-isu yang beredar soal netralitas penyelenggara. Kami berharap Bawaslu Riau serius melakukan supervisi," tegas Pagar.

    Kegiatan aksi damai ini hanya berlangsung sekitar 1 jam. Pagar menyatakan aksi damai akan dilanjutkan dengan mendatangi Polda Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau untuk menyampaikan informasi dan indikasi temuan pihaknya yang menyangkut dugaan adanya tindak pidana umum maupun tindak pidana khusus.

    "Aksi ini akan kami lanjutkan sebelum minggu tenang pada 6 Desember mendatang. Kami akan mengawal temuan ini dan berharap pihak dan aparat terkait menindaklanjutinya," pungkas Pagar.***(zh/int)



     
    Berita Lainnya :
  • Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Gelar Aksi ke Bawaslu Riau, Pertanyakan Ijazah Asri Auzar dan Afrizal,
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Rumah Duka di Karimun Merangkap Tempat Judi, Polres Tutup Mata
    2 Pemuda Teluk Sungkai Gotong Royong Menimbun Jalan Berlobang
    3 Sijago Merah Lahap 7 Rumah Warga di Jalan Datuk Bandar Tembilahan
    4 Fraksi DPRD Riau Berikan Pandangan Umum Terhadap Ranperda Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah
    5 Pemkab Rohil Salurkan Beasiswa Keluarga Tidak Mampu Sebesar Rp6,5 Milyar
    6 Pj Walikota Dumai Arlizman Agus Buka Jambore PIK 2015
    7 Ini Dia Cara Alami Mengobati Sakit Gigi Terbukti Ampuh
    8 Konferensi Perubahan Iklim ke-21 Paris
    APRIL Tawarkan Solusi Alternatif Buka Lahan Tanpa Bakar
    9 Bantuan Kapal Karet Tiba, BPBD Siap Siaga Atasi Banjir di Pekanbaru
    10 Presiden Minta Percepatan Pembangkit Listrik & Kilang Minyak
     
    Foto Lepas | Galeri Foto | Advertorial | Opini | Indeks
    Siak | Inhu | Rohil | Kepri | DPRD Rohil
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2016 PT. INTERMEZO PUTRA SAMPURNA PERS, All Rights Reserved
    handbags replicawatches replica