HIDUP yang berarti pada dasarnya ketika seseorang mampu memberikan sebanyak mungkin yang terbaik untuk kepentingan orang lain. Ketika Ir " />
www.beritaintermezo.com
16:14 WIB - Pemkab Meranti Berduka, Asisten III Setda Meranti Drs T Akhrial Meninggal Dunia di RSUD Dorak | 13:40 WIB - Jika Terpilih, Paslon Bupati Dairi St Rimso Maruli Sinaga SH MHAkan Bangun Universitas di Dairi | 13:37 WIB - Paslon Rim Uli No 3 : Kabuapten Dairi Harus Bebas Dari Bahaya Norkoba | 13:31 WIB - Protes Kebijakan Mendagri, DPR Bakal Gaduh Mau Bukun Angket | 13:25 WIB - Kader Mengundurkan Diri, Gerindra Menari di Atas Isu Sara Kejar Kepentingan | 14:34 WIB - IPHI Sibolga, Santuni Kaum Duafa dan Anak Yatim Piatu
Profil
Arsyadjuliandi Rachman Mendedikasikan Diri untuk Kepentingan Publik
Kamis, 08-03-2018 - 10:06:28 WIB

TERKAIT:
 
  • Arsyadjuliandi Rachman Mendedikasikan Diri untuk Kepentingan Publik
  •  

    HIDUP yang berarti pada dasarnya ketika seseorang mampu memberikan sebanyak mungkin yang terbaik untuk kepentingan orang lain. Ketika Ir H Arsyadjuliandi Rachman MBA memutuskan terjun ke dunia politik praktis, maka pada saat bersamaan tokoh yang akrab dengan panggilan Andi Rachman ini harus meninggalkan segala glomour dunia usaha yang membesarkan namanya, untuk kemudian bersiap mencurahkan perhatian buat kepentingan publik.

    Andi Rachman harus rela semakin jauh dari "dunia"-nya ketika mencapai karier terbaik di bidang politik: mendampingi H Annas Maamun sebagai Wakil Gubernur Riau periode 2013-2018 produk Pemilihan Gubernur Riau 2013, untuk kemudian --karena atasannya Annas Maamun tersangkut persoalan hukum-- ia menjadi orang pertama di Provinsi Riau dengan menjabat sebagai Gubernur Riau.

    Apa yang dicari? "Saya hanya ingin berupaya memberikan pengabdian terbaik kepada orang banyak," kata Andi Rachman, saat ditanya misinya dengan jabatan Gubri yang disandangnya. "Bukankah menurut ajaran agama, manusia yang bermanfaat itu adalah mereka yang mampu mendatangkan kemaslahatan bagi kepentingan sesama?"

    Padahal di segi materi-finansial, jauh sebelum menjejakkan kaki di dunia politik, kurang apa Andi Rachman? Andi dulu merupakan pengusaha yang tergolong sukses di Riau, yang memiliki banyak jenis usaha yang berbasis di Ranah Lancang Kuning ini. Di bawah Group Riau Muda, Andi menguasai bisnis transportasi, SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum), pertambangan, perkebunan, dan lainnya. Kesuksesan Andi sebagai pengusaha ini tercermin dari pengumuman KPU Riau yang menyatakan Andi sebagai calon Wakil Gubernur Riau terkaya dengan kekayaan sebanyak Rp132 miliar tunai.

    Andi punya cap tersendiri dari keterlibatannya di dunia usaha, yaitu tidak terlalu berorientasi untuk mengerjakan proye-proyek milik pemerintah --baik pusat maupun daerah--, meskipun ia tidak mempermasalahkan bila pengusaha lain mengerjakan proyek di pemerintahan. Potensi ladang usaha di luar pemerintah baginya masih amat besar, bahkan berkembang dari hari ke hari. Keperluan transportasi, misalnya, makin berkembang seiringan dengan perkembangan ekonomi di Provinsi Riau.

    Dengan pengalaman yang tidak banyak dimiliki orang di daerah, ia dapat merambah usaha tersebut ke provinsi lain, yang menjadi cermin usaha perminyakan dan energi karena eksploitasi alamnya untuk hal-hal demikian sejak lama, sampai memberi sumbangan besar dalam pembiayaan negara. Apalagi ketika otonomi daerah bergulir yang membuka sedikit atau banyaknya keran subyek-subyek tempatan untuk berperan dalam pengelolaan emas hitam itu.
    Tak heran bila usahanya kemudian tertancap di luar Riau.

    Andi membuktikan "tangan dingin"-nya dalam mengelola usaha ketika dipercaya menjadi Dirut (Direktur Utama) PD Sarana Pembangunan Riau yang merupakan badan usaha milik daerah (BUMD), dalam rentang waktu 1999 sampai 2004. Di tangan Andi, BUMD yang kala itu sering diposisikan sebagai badan usaha yang senantiasa "menyusu" ke kas daerah, di tangan Andi mampu memberi kontribusi bagi kepentingan daerah. Di tangan Andi, BUMD itu beralih dari perusahaan yang tidak memiliki aset dan aktivitas bisnis yang jelas, menjadi satu-satunya perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi Riau tanpa harus menyusu pada APBD.

    BUMD itu memberi kontribusi yang cukup signifikan untuk sumber penerimaan dana pembangunan daerah. Sadar bahwa BUMD harus mampu memberikan solusi bagi perekonomian daerah dan mengingat kondisi kelistrikan Riau yang sangat memrihatinkan pada saat itu serta mengantisipasi keperluan listrik yang semakin meningkat, Andi berhasil melobi pemerintah pusat dan PT Caltex Pacific Indonesia (sekarang Chevron) untuk menghibahkan tiga unit genset milik PT CPI ke BUMD Sarana Pembangunan Riau yang saat ini dioperasikan oleh PT Riau Power.

    Selain itu, sebagai Dirut Perusahaan Daerah, Andi mencetuskan sekaligus mempromosikan kepada investor tentang pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai dan Kawasan Industri Tanjung Buton.

    Serangkaian sukses yang direbut Andi di dunia usaha membuat tokoh yang satu ini tampil sebagai salah satu pengusaha yang disegani di Riau. Tak pelak pada 1989, ketika ia dimunculkan sebagai calon Ketua BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Riau, kalangan pengusaha yang tergabung dalam organisasi itu menyambutnya dengan positif, dan memercayakan posisi Ketua Hipmi Riau kepada Andi Rachman.

    Sukses memimpin Hipmi Riau, Andi kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum Kadinda (Kamar Dagang dan Industri Daerah) Provinsi Riau, yang ia jalani selama dua periode dalam rentang waktu dari tahun 2001 sampai 2011. Pada masa kepemimpinannya, Kadin menjadi pionir (penyelenggara pertama kali) Kegiatan Pameran Pendidikan dan Bursa Tenaga Kerja yang sampai sekarang terus diselenggarakan oleh banyak institusi.

    Demikian juga dengan upaya menumbuhkembangkan wirausahawan baru dan UMKM di Riau. Andi, mahfum bahwa daerah atau negara yang rakyatnya makmur secara ekonomi harus ditopang oleh kuantitas dan kualitas wirausahawan dan UMKM, terutama dalam hal optimalisasi potensi ekonomi daerah.

    Sebagai Ketua Umum Kadin Riau, organisasi yang mewadahi dan representasi pelaku dunia usaha, Andi Rachman gigih memperjuangkan agar pelaku usaha tempatan mendapatkan porsi yang proporsional dalam kue pembangunan. Hal tersebut tercermin dengan keberhasilannya menginisiasi pembentukan LBD (Local Business Development) di PT CPI dan adanya kebijakan pemerintah Riau untuk mengutamakan pelaku usaha daerah dalam pelaksanaan pengadaan barang jasa di Riau.

    Sukses memimpin Kadinda di tingkat daerah, Andi Rachman kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua Kadin Indonesia, yang diembannya pada tahun 2009.

    Setelah merasa memiliki kemapaman di bidang ekonomi, Andi kemudian melirik dunia politik. Ia bergabung dengan Partai Golkar, dan melalui partai ini ia berhasil menduduki kursi DPR-RI periode 2009-2014. Dalam Pemilukada Riau 2013, ia yang berpasangan dengan Annas Maamun terpilih sebagai wakil gubernur Riau periode 2013-2018, dan resmi dilantik pada tanggal 19 Februari 2014 oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Gamawan Fauzi. Karena bosnya Annas Maamun tersangkut persoaln hukum, pada 25 Mei 2016 Andi Rachman diangkat menjadi Gubernur Riau definif.

    Dalam suatu percakapan, Andi pernah mengatakan bahwa jalan hidupnya datar-datar saja, tidak dramatik. Dengan keyakinan benar dan tepat, ia berusaha mengikuti jalur yang ada, kemudian mengembangkannya. Seperti juga terlihat pada pergerakannya di bidang bisnis dan politik yang auranya sama saat ia menduduki jabatan Gubernur Riau. Beberapa bulan setelah dilantik sebagai Wakil Gubernur Riau, 25 September 2014 ia harus menerima jabatan Plt Gubernur. Tanpa pernah direkayasanya pula, sejak 25 Mei 2016 ia diangkat menjadi Gubernur Riau definitif.

    Dalam bidang politik, Andi Rachman “mewarisi” Golkar dari orang tuanya karena ayahnya, Abdul Rachman Syafei, juga terlibat aktif dengan partai tersebut. Tapi Andi mengawali karier poliknya dari bawah, mulai dari anggota biasa walaupuan ia jebolan perguruan tinggi luar negeri. Ia tidak bermasalah dengan hal itu, kemudian bersedia duduk di biro DPD Golkar.

    Dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, dan organisasi bergengsi tingkat provinsi, ia tidak tertarik untuk masuk partai lain yang dapat mengantarkannya langsung ke puncak pimpinan di daerah pada awal reformasi. Ia terus di Golkar, sampai akhirnya menjadi Bendahara DPD Golkar Riau (2003-2010). Menjadi anggota DPR RI yang berkedudukan di Jakarta hasil Pemilu 2009, ia kemudian dipilih menjadi Wakil Sekjen DPP Golkar (2010-2014). Sejak beberapa waktu belakangan Andi dipercaya menjadi Ketua DPD I Partai Golkar Riau.

    Keterlibatan Andi di politik praktis, yang kemudian mengantarkannya duduk sebagai wakil rakyat --baik untuk tingkat daerah maupun pusat-- bukanlah sekadar pelengkap penderita. Saat ia duduk sebagai anggota DPRD Riau periode 2004-2009 dan saat sebagai anggota DPR-RI/ MPR-RI periode 2009-2014, perjuangan membela kepentingan rakyat dan daerah terus dilanjutkan.

    Melalui Komisi VII DPR-RI (membawahi bidang Energi, Lingkungan Hidup, Riset, dan Teknologi), program kelistrikan Riau yang didanai APBN terus diperjuangkan. Sedaknya, kerja keras Andi terwujud dengan dibangunnya pembangkit listrik yang telah dirasakan oleh Kabupaten Kepulauan Meranti, Dumai, Pelalawan, dan Rokan Hilir maupun percepatan pembangunan PLTU Tenayan Raya di Pekanbaru.

    Isu lingkungan hidup yang berdampak langsung pada dunia usaha di Riau maupun masyarakat, dijawab oleh Andi dengan menyelenggarakan aktivitas penanaman pohon produktif maupun pendirian Bank Sampah di Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Kepulauan Meranti. Program tersebut juga disandingkan dengan pengenalan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dan praktis kepada masyarakat khususnya petani dan UMKM.

    Sejak duduk di eksekutif dengan menjabat sebagai Plt. Gubernur Riau, Andi menyuarakan banyak hal berkaitan dengan Melayu dan kemelayuan. Berbicara dalam pembukaan Musyawarah Kerja (Musyker) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) yang dilaksanakan 21-24 Desember 2014, ia mencetuskan pendirian Dinas Kebudayaan, suatu piranti penting dalam mewujudkan visi maupun misi Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu dan ekonomi Asia Tenggara tahun 2020. Dalam organisasi perangkat daerah (OPD), Dinas Kebudayaan Riau telah dimunculkan dan beroperasi sejak tahun 2017 ini.

    Tanpa bermaksud menyalahkan sesiapa, patutlah diakui bahwa sejak visi mapun misi Riau 2020 dilaungkan tahun 2001, urusan kebudayaan masih sebagai subkoordinat dari suatu sistem. Padahal bersama ekonomi, kebudayaan diharapkan menjadi inti pembangunan Riau yang oleh karenanya memerlukan penanganan khusus atau sekurang-kurangnya mandiri. Pembangunan kebudayaan tidak bisa ditumpangkan dengan kegiatan lain karena memiliki jangkauan yang lebih luas dan mendalam.

    Kebudayaan memerlukan dunia pendidikan, tetapi pendidikan lebih cenderung pada usaha pewarisan, sedangkan tuntutan kebudayaan selain pewarisan adalah pelestarian, penyebaran, dan kemungkinan-kemungkinan eksplorasi pengkaryaan. Kebudayaan memerlukan pariwisata, tetapi pariwisata memokuskan diri dengan penghidangan subyek budaya ke khalayak ramai sebagai bagian kecil dari ranah kegiatan kebudayaan. Oleh karena itulah, hanya ada satu kumpulan kata (frase) untuk menjawab kenyataan ini yakni “amat perlunya Dinas Kebudayaan”.

    Malah bisa menjadi tidak amanah jika Dinas Kebudayaan ini tidak diwujudkan dalam konteks bahwa menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu merupakan keputusan rakyat Riau yang tertuang dalam peraturan daerah. Sempena dengan hari jadi Provinsi Riau ke-58, 9 Agustus 2015, ia mencanangkan pembangunan pariwisata berbasis kebudayaan. Dalam kaitan ini pulalah, ia menjuluki Riau sebagai tanah tumpah darah Melayu atau Riau The Homeland of Melayu.

    Mengingat betapa perlunya pelestarian dan pewarisan kebudayaan Melayu, tahun 2016, ia menerbitkan Peraturan Gubernur tentang Pelajaran Muatan Lokal sebagai pengkonkritan peraturan daerah tentang pendidikan. Dengan demikian, materi pelajaran kebudayaan Melayu di sekolah-sekolah memiliki landasan hukum yang menjadi suatu keniscayaan.

    Dengan tiga hal di atas, Andi Rachman, dapat dikatakan telah menunjukkan langkah konkrit untuk keeksistensian kebudayaan Melayu. Di mata Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), langkah itu juga menjadi amanah kepada warga di daerah ini yang memangku jabatan sebagai gubernur untuk diberi gelar Datuk Setia Amanah. Artinya, boleh dikatakan selain memperlihatkan kerja nyata terhadap kebudayaan Melayu, Andi Rachman dalam kaitannya sebagai warga juga menyandang jabatan Gubernur Riau.

    Profil Calon Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman: Dinilai Paling Berhasil Menata Manajemen Pemerintahan dan Pembangunan Riau

    Dididik Sejak Kecil

    Dilahirkan di Pekanbaru pada 8 Juli 1960, Andi Rachman yang merupakan anak kelima dari 10 bersaudara menyelesaikan pendidikan dasar di SD 14 Pekanbaru, kemudian melanjutkan pendidikan yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP), tepatnya di SMP 4 Bukittinggi, Sumatera Barat, tahun 1973. Semula, setamat SMP ia melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 di kota yang sama, tetapi menyelesaikan jenjang pendidikan tersebut di SMA 3 Yogyakarta 1980 karena pindah tempat tinggal sebagai anak kos, agar mendapatkan pendidikan dan suasana pendidikan lebih baik.

    Jenjang perguruan tinggi ditempuh Andi di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Solo, tahun 1980-1985. Melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat 1986, di Oklahoma City University, jurusan Marketing Track. Hal ini terjadi setelah ia bertemu dengan Taufik Saleh, seorang anak Riau yang menjalani tugas belajar di negeri Paman Sam itu. Apalagi, orangtuanya yakni Abdul Rachman Syafei, tidak banyak tanya saat Andi mengajukan keinginan melanjutkan kuliah di Amerika Serikat yang dapat diselesaikannya dua tahun, 1986-1987.

    Tidak saja memperoleh gelar Master bidang Administrasi Bisnis di Amerika Serikat (MBA), di kota tempat ia kuliah itu pulalah ia bertemu dengan Sisilita asal Kalimantan Barat. Dari pernikahannya dengan perempuan ini, ia kemudian dianugerahi seorang anak yang dinamakan Arsilia.Anak tersebut kini pun telah menganugerahinya dua orang cucu berkat pernikahan sang anak dengan Giovandi Suhendi.

    Andi semula dikenal sebagai seorang saudagar yang boleh dikatakan sudah dididik untuk itu sejak kecil. Hal ini terlihat dari “tugasnya” sebagai anak yakni menemani ibu berbelanja ke pasar setiap hari Ahad. Selain dapat menjamu selera, pelan-pelan ia mengamati bahwa di pasar, ada transaksi jual-beli yang begitu dinamis dengan sosok ketergantungan antara satu dan lainnya dalam pusaran keseharian.

    Peresapan pemahaman ini tambah terasah, sebab kemudian, setiap hari libur ia menemani ayahnya ke kota-kota yang menjadi basis usaha sang ayah. Dengan label Sinar Riau, bisnis transportasi tersebut di tangan ayahnya, sudah amat berkembang. ***



     
    Berita Lainnya :
  • Arsyadjuliandi Rachman Mendedikasikan Diri untuk Kepentingan Publik
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Rumah Duka di Karimun Merangkap Tempat Judi, Polres Tutup Mata
    2 Pemuda Teluk Sungkai Gotong Royong Menimbun Jalan Berlobang
    3 Ini Dia Cara Alami Mengobati Sakit Gigi Terbukti Ampuh
    4 Konferensi Perubahan Iklim ke-21 Paris
    APRIL Tawarkan Solusi Alternatif Buka Lahan Tanpa Bakar
    5 Pemkab Rohil Salurkan Beasiswa Keluarga Tidak Mampu Sebesar Rp6,5 Milyar
    6 Fraksi DPRD Riau Berikan Pandangan Umum Terhadap Ranperda Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah
    7 Sijago Merah Lahap 7 Rumah Warga di Jalan Datuk Bandar Tembilahan
    8 Bantuan Kapal Karet Tiba, BPBD Siap Siaga Atasi Banjir di Pekanbaru
    9 Pj Walikota Dumai Arlizman Agus Buka Jambore PIK 2015
    10 Presiden Minta Percepatan Pembangkit Listrik & Kilang Minyak
     
    Foto Lepas | Galeri Foto | Advertorial | Opini | Indeks
    Siak | Inhu | Rohil | Kepri | DPRD Rohil
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2016 PT. INTERMEZO PUTRA SAMPURNA PERS, All Rights Reserved
    handbags replicawatches replica