Belasan kilang sagu di Desa Sungai Tohor dan desa sekitarnya di Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, tidak " />
www.beritaintermezo.com
10:24 WIB - Semburan Air Panas Dari Kolong Rumah Hebohkan Warga Meranti | 10:19 WIB - Klinik Sundari Tidak Pernah Merawat PASIEN Covid 19 Ini Penjelasannya | 10:13 WIB - Tetap Semangat Jalani Hidup dan Yakinlah Dengan Doa Badai Pasti Berlalu | 10:10 WIB - SE Walikota, Sekolah Swasta agar Meringankan Iuran Komite 50 Persen | 10:07 WIB - Kemendagri RI Luncurkan Lomba Inovasi Daerah New Normal | 10:03 WIB - Pengurus Daerah IWO Meranti Adakan Silaturahmi Usai Lebaran
Dampak Covid-19 di Meranti, 18 Kilang Tak Beroperasi Ribuan Ton Sagu Basah Menumpuk
Rabu, 22-04-2020 - 05:55:05 WIB

TERKAIT:
 
  • Dampak Covid-19 di Meranti, 18 Kilang Tak Beroperasi Ribuan Ton Sagu Basah Menumpuk
  •  

    Meranti (Beritaintermezo.com)-Belasan kilang sagu di Desa Sungai Tohor dan desa sekitarnya di Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, tidak sesibuk seperti biasanya. Kondisi ini sudah berlangsung dalam dua bulan belakangan karena imbas dari virus corona.

    Sebanyak 1000 ton tepung sagu hasil produksi dari 18 kilang milik masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kepulauan Meranti menumpuk.

    Belasan karung berisi sagu basah yang menumpuk di setiap kilang itu seolah menunggu kepastian kapan akan diekspor ke Malaysia. Jika dibiarkan hingga dua pekan, kualitas bahan utama pembuat tepung sagu itu dipastikan menurun, dan masyarakat juga akan merugi.

    Hal itu terjadi akibat wabah Corona, sehingga pemerintah setempat melakukan pembatasan pergerakan masyarakat atau movement control order (MCO/lockdown) di negeri jiran tersebut.

    "Biasanya tokeh bernama Asiong sudah mengambil sagu dari semua kilang disini untuk dibawa ke Malaysia, namun akibat Corona dan penerapan Lockdown di sana, sagu basah disini hanya menumpuk dan tidak tahu lagi kemana mau dijual, inilah yang kami hadapi imbas dari corona ini," kata Abdul Manan salah seorang pemilik kilang pengolahan sagu basah.

    Dikatakan Abdul Manan, sagu basah tersebut sudah lama diolah, hanya tinggal menunggu dijual saja. Tidak lagi soal keuntungan, tapi tiap harinya menghitung kerugian karena produksi sagu basah mereka sudah lama tidak diterima negeri jiran itu.

    Adapun kerugian yang dialaminya dalam sebulan bisa mencapai Rp100 juta. Jika dikalikan dengan 18 kilang yang ada saat ini, sudah ada Rp 1,8 miliar kerugian yang dialami. Selain itu sudah banyak juga para pekerja yang dihentikan sementara dari pekerjaannya.

    "Itu baru kerugian dari kilangnya saja, belum dari petani sagunya. Selain itu sudah banyak pekerja yang distop. Rata-rata satu kilang itu mempekerjakan 10 orang kepala keluarga. Jadi ekonomi di Kecamatan Tebingtinggi Timur saat ini lumpuh akibat sagu tak bisa dijual, selain itu masyarakat di sini banyak yang bekerja di bidang sagu," ungkap Manan, Senin (20/4/2020).

    Untuk itu dia berharap ada solusi mengatasi permasalahan tersebut, baik itu oleh pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat.

    Abdul Manan yang juga sebagai Ketua Koperasi Sentra Sagu Terpadu yang mengelola IKM Sungai Tohor berharap kepada Pemerintah Provinsi Riau untuk mengalokasikan anggaran dan membeli sagu dari kilang milik masyarakat untuk diolah menjadi beras dan gula sagu di Sentra Industri Kecil Menengah (SIKM) di Desa Sungai Tohor.

    Dikatakan permintaan itu tidak muluk-muluk mengingat anggaran di provinsi sangat besar, selain itu Gubernur Riau juga berjanji akan menjadikan sagu sebagai makanan pokok pengganti beras.

    "Harapan kami ke pemerintah Provinsi Riau untuk mengalokasikan anggaran Bankeu dan membeli sagu masyarakat yang menumpuk ini untuk diolah menjadi beras dan gula sagu di SIKM Sungai Tohor ini. Disana anggaran besar, kita sudah bicarakan di kabupaten, namun dananya kecil," kata Manan.

    Manan juga mengungkapkan jika untuk mengoperasikan SIKM dibutuhkan anggaran sebesar Rp 12 miliar untuk biaya produksi selama enam bulan. Selain itu produksi tersebut untuk menutupi kelangkaan terhadap dua jenis sembako selama pandemi Covid-19 ini.

    "Biaya Produksi SIKM kita butuh anggaran sebesar Rp 12 miliar lagi untuk enam bulan, dimana anggaran untuk satu bulannya sebesar Rp 2 miliar dan itu sudah termasuk pembelian bahan baku dan gaji karyawan. Menurut saya ini langkah terbaik jika Pemkab Kepulauan Meranti bisa mengoperasikan cepat, hal ini juga untuk mengatasi kelangkaan beras dan gula selama wabah corona ini," ujar Manan.

    Terakhir dikatakan, ini merupakan momentum untuk mengajak masyarakat hidup sehat dengan mengkonsumsi sagu.

    "Inilah saatnya Meranti mengajar masyarakat Meranti makan sagu, selain mengenyangkan dianya juga menyehatkan. Kalau misalnya ada pembagian Raskin sebanyak 5 Kg, dibagi saja, beras 3 kilo dan sagu 2 kilo," pungkas Manan.***(karim)



     
    Berita Lainnya :
  • Dampak Covid-19 di Meranti, 18 Kilang Tak Beroperasi Ribuan Ton Sagu Basah Menumpuk
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Rumah Duka di Karimun Merangkap Tempat Judi, Polres Tutup Mata
    2 Pemuda Teluk Sungkai Gotong Royong Menimbun Jalan Berlobang
    3 Fraksi DPRD Riau Berikan Pandangan Umum Terhadap Ranperda Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah
    4 Pemkab Rohil Salurkan Beasiswa Keluarga Tidak Mampu Sebesar Rp6,5 Milyar
    5 Sijago Merah Lahap 7 Rumah Warga di Jalan Datuk Bandar Tembilahan
    6 Ini Dia Cara Alami Mengobati Sakit Gigi Terbukti Ampuh
    7 Pj Walikota Dumai Arlizman Agus Buka Jambore PIK 2015
    8 Konferensi Perubahan Iklim ke-21 Paris
    APRIL Tawarkan Solusi Alternatif Buka Lahan Tanpa Bakar
    9 Bantuan Kapal Karet Tiba, BPBD Siap Siaga Atasi Banjir di Pekanbaru
    10 Presiden Minta Percepatan Pembangkit Listrik & Kilang Minyak
     
    Foto Lepas | Galeri Foto | Advertorial | Opini | Indeks
    Siak | Inhu | Rohil | Kepri | DPRD Rohil
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2016 PT. INTERMEZO PUTRA SAMPURNA PERS, All Rights Reserved
    handbags replicawatches replica