www.beritaintermezo.com
06:30 WIB - Masjid Raya Al-Ikhsan Santuni 333 Anak Yatim | 06:28 WIB - Dicoret dari Daftar CS DPD, OSO Meradang dan Kerahkan Perlawanan | 12:51 WIB - Capai 99%, Kolektabilitas Iuran JKN-KIS Terus Didongkrak | 08:42 WIB - Bupati Harapkan Seluruh Kelurahan Kampanyekan Pencegahan KDTR | 08:37 WIB - Hadiri HUT Desa Sei Kandis Ke-11 , Bupati Sukiman Apresiasi BUMDesa dan Ajak Warga Taat Bayar Pajak | 08:33 WIB - Peringati 10 Muharram, Pemkab Rohil Santuni Anak Yatim
Pelemahan Rupiah, Celah Kampanye Hantam Pemerintah
Sabtu, 08-09-2018 - 00:17:09 WIB

TERKAIT:
 
  • Pelemahan Rupiah, Celah Kampanye Hantam Pemerintah
  •  

    JAKARTA,(BI)-Anggota Komisi XI DPR RI Mokhamad Misbakhun menegaskan pelemahan rupiah saat ini digunakan untuk kampanye di tahun politik menuju pilpres 2019. Hanya saja dia mengingatkan agar politisasi dollar itu tidak berlebihan, karena akan merugikan seluruh rakyat.

    “Politisasi dollar boleh saja asal tidak berlebihan. Sebab, kalau berlebihan rakyat yang akan rugi. Baik pendukung Jokowi – Ma’ruf Amin maupun Prabowo – Sandi,” tegas politisi Golkar itu di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Kamis (6/9/2018).

    Hal itu disampaikan dalam dialektika demokrasi ‘Pelemahan rupiah terhadap dollar AS’ bersama anggota Komisi XI DPR Eva Kusuma Sundari (FPDIP), Heri Gunawan (Gerindra), dan Refrizal (PKS).

    Yang pasti kata Misbakhun, tingkat kepercayaan pasar khususnya pengusaha nasional dan internasional sangat tinggi pada Presiden Jokowi. “Saya kira kalau bukan Jokowi akan jatuh,” ujarnya.

    Menurutnya, pelemahan rupiah itu disebabkan dua hal; yaitu faktor eksternal (global), dan internal. Untuk internal karena transaksi berjalan terkait impor BBM itu sangat tinggi, dan inilah yang menyedot 26 miliar dollar AS per bulan. “Perharinya kita impor 3 juta kiloliter BBM,” jelas Misbakhun.

    Karena tingkat kepercayaan investor dan pengusaha sangat tinggi, dan sentimen pasar juga positif, maka pelemahan rupiah tersebut masih lebih baik dibanding dengan Turki, Argentina, India, dan negara-negara Eropa yang lain. Sehingga perekonomian Indonesia masih tumbuh dengan baik sekitar 5,2 persen.

    Selain itu, UU Devisa Indonesia masih mengikuti rezim devisa bebas. “UU devisa ini punya peran besar pada fluktuasi rupiah dan valuta asing termasuk dollar AS sehingga bisa keluar-masuk seenaknya ke luar negeri. Makanya secara struktur harus diperbaiki,” ungkapnya.

    Sementara itu Thailand, dan Vietnam kenapa lebih baik dibanding Indonesia menurut Misbakhun, karena ekspornya surplus. “Untuk itu, pemerintah terus melakukan perbaikan-perbaikan termasuk mengurangi impor bagi infrastruktur BBM dan lain-lain,” pungkasnya.(Bir).



     
    Berita Lainnya :
  • Pelemahan Rupiah, Celah Kampanye Hantam Pemerintah
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Rumah Duka di Karimun Merangkap Tempat Judi, Polres Tutup Mata
    2 Pemuda Teluk Sungkai Gotong Royong Menimbun Jalan Berlobang
    3 Pemkab Rohil Salurkan Beasiswa Keluarga Tidak Mampu Sebesar Rp6,5 Milyar
    4 Ini Dia Cara Alami Mengobati Sakit Gigi Terbukti Ampuh
    5 Konferensi Perubahan Iklim ke-21 Paris
    APRIL Tawarkan Solusi Alternatif Buka Lahan Tanpa Bakar
    6 Fraksi DPRD Riau Berikan Pandangan Umum Terhadap Ranperda Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah
    7 Sijago Merah Lahap 7 Rumah Warga di Jalan Datuk Bandar Tembilahan
    8 Bantuan Kapal Karet Tiba, BPBD Siap Siaga Atasi Banjir di Pekanbaru
    9 Pj Walikota Dumai Arlizman Agus Buka Jambore PIK 2015
    10 Presiden Minta Percepatan Pembangkit Listrik & Kilang Minyak
     
    Foto Lepas | Galeri Foto | Advertorial | Opini | Indeks
    Siak | Inhu | Rohil | Kepri | DPRD Rohil
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2016 PT. INTERMEZO PUTRA SAMPURNA PERS, All Rights Reserved
    handbags replicawatches replica