www.beritaintermezo.com
12:40 WIB - UIR Wisuda 2.034 Mahasiswa, Aurelly Zulkhinantania Raih IPK Tertinggi 3,97 | 20:50 WIB - Direktur Pascasarjana UIR Yudisium 150 Calon Wisudawan | 15:56 WIB - Dewan Pers Apresiasi Pergub Kerjasama Media Riau | 15:26 WIB - Diperkiran Naik Menjadi Rp 1,8 Triliun, Pemerintah dan DPRD Rohil Sepakati KUA-PPAS Perubahan 2021 | 10:09 WIB - Menguji "Taring" Pemerintah Dalam Kasus Mafia Tanah. | 08:49 WIB - Wajah di Aplikasi Berbeda, Pemesan Batalkan Kencan Hingga Diperas Perempuan di Medan
Menjelajahi TNBT di Indragiri Hulu Riau, "Surga Kecil" Flora dan Fauna
Kamis, 26-08-2021 - 13:43:31 WIB

TERKAIT:
 
  • Menjelajahi TNBT di Indragiri Hulu Riau, "Surga Kecil" Flora dan Fauna
  •  

    Sederet Double Cabbin Triton beriringan di Jalan Lintas Timur Belilas-Seberida. Iringan mobil pick up tersebut mengangkut puluhan wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau yang melakukan ekspedisi ke Hutan Taman Nasional Bukti Tigapuluh pada 6-8 Agustus 2021 lalu. Hanya beberapa menit melintasi pasarhitam, iringan mobil tiba dipertigaan jalan yang disebut Simpang Granit. Ya, Simpang Granit, hampir seluruh masyarakat Indragiri Hulu dan sebagian masyarakat Riau umumnya sudah tau dan paham jika disebut Simpang Granit.

    Memasuki Jalan Granit, iringan triton double cabbin mulai menggoyang yang ikut menggoyangkan para penumpangnya. Goyangan tersebut mengikuti medannya jalan sepanjang lintasan menuju camp granit yang melalui jalan tanah. Kurang lebih lima belas menit dari simpang granit, perjalanan dihiasi perkebunan sawit yang hijau dan indah.

    Tiba dipertigaan jalan sepanjang perkebunan warga, gapura Selamat Datang menunjukkan simpang memasuki "Surga Kecil" yang disebut Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Perlahan, iringan kenderaan meninggalkan perkebunan sawit warga. Selanjutnya berbagai jenis pohon dan semak belukar menyambut sebagai tanda telah berada dikawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. 

    Pemandangan hutan yang indah dan asri mengalahkan guncangan mobil yang melalui jalan tanah dan sedikit kerikil. Terutama setelah mendengar berbagai suara merdu burung dan hewan kecil penghuni hutan membuat suasana terasa adem dikesunyian hiruk pikuk kenderaan. Tak lebih dari lima belas menit menikmati lintasan hutan yang indah, tiga bangunan ukuran sedang yang terbuat dari kayu diareal perbukitan menyambut rombongan. Ternyata, bangunan tersebut menandakan perjalan iringan kenderaan telah berakhir ketujuan yang disebut Camp Granit.

    Kesejukan dan keasrian sepanjang perjalanan menuju camp granit ternyata baru sebagian kecil, walau sudah menawarkan hutan yang asri. Pemandangan dari Camp Granit jauh sangat indah yang menawarkan viewu beberapa bukit dan jutaan kayu besar. Surga kecil itu baru terasa setelah menikmati pemandangan dari Camp Granit, sejauh mata memandang dengan ratusan ribu hektar hamparan hutan setiap sentinya memberikan kesejekuan. Ditambah dengan sejejer tempat duduk yang disodorkan untuk bisa berekspresi dengan latar belakang hutan, menambah pengalaman yang sangat indah.

    Camp Granit merupakan kantor peninggalan perusahaan Granit yang beroperasi dikawasan hutan Bukit Tigapuluh sebelum pemerintah menetapkan Bukit Tigapuluh sebagai Kawasan Hutan Taman Nasional pada tanggal 21 Juni 2002 sesuai SK Menteri Kehutanan No 6407/Kpts-II/2002. Camp yang berada di perbukitan ini menawarkan setiap orang untuk menikmati keindahan Bukit Tigapuluh. Karena dari Camp ini terlihat jelas beberapa bukit sebagai bagian dari Bukit Tigapuluh.

    Keindahan yang ditawarkan Hutan Bukit Tigapuluh menghilangkan penat dan beban pikiran bagi setiap orang yang berkunjung disana. Terutama ketika malam sudah tiba, dinginnya udara dikeheningan malam ditambah dengan suara-suara binatang malam menambah ketenangan hati.

    Merebahkan diri dihalaman bangunan camp granit menatap langit bebas seakan tak kekurangan apapun, Jutaan bintang diatas yang memberikan penerangan remang-remang ditengah kesejukan malam menjadi pengalaman terindah yang sulit dilupakan.

    Pohon Mersawa Dibukit Lancang Ratusan Tahun.

    Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) Fifin Arfiana menyebut ada pohon berusia ratusan tahun yang memiliki lingkar 12 orang dewasa. Rasa penasaran dan ingin segera melihat langsung terbenak dalam pikiran. Seperti apa besaran pohon yang disebut-sebut sangat besar sebagai salah satu jenis flora Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

    Namun tidak semudah membayangkan untuk melihat pohon raksasa tersebut. Bagi mereka yang tidak kuat untuk mendaki bukit tidak akan dapat melihat langsung dan menikmati pemandangan pohon luar biasa yang disebut Mersawa itu. Butuh tenaga, stamina dan keberanian untuk menembus lokasi pohon tersebut.

    Jam baru menunjukkan diangka 05:15 wib, beberapa tim ekspedisi telah bergegas dari tempat tidurnya, sebagian kekamar mandi bersiap untuk melaksanakan sholat subuh. Saya pun terbangun dari tidurku setelah sebelumnya membaringkan badan usai melaksanakan hiburan kecil dan mendengarkan persentasi kepala Balai TNBT.

    Matahari hari belum terbit dari ujung timur, saya bersama teman-teman dengan semangat melangkahkan kaki menuju salah satu jenis flora terbesar di Bukit Lancang. Lengkap dengan perbekalan sebagaimana seorang pendaki gunung, kami dituntun Pak Andi, salah seorang petugas Balai TNBT yang ditunjuk untuk menemani tim ekspedisi.

    Melewati  telaga teduh, salah satu kolam sumber air yang berisi beberapa jenis ikan seperti nila dan gabus. Dikelilingi pepohonan membuat tempat ini teduh yang hanya menerima sinar matahari selama empat jam. Telaga Teduh, merupakan objek pertama sebagai star perjalanan menuju pohon Mersawa. Hanya beberapa menit menikmati indahnya telaga teduh, ternyata tantangan pertama langsung dihadapkan dengan menaiki delapan puluh anak tangga yang cukup terjal. Walaupun hanya delapan puluh anak tangga yang dilalui, namun perjalan ini cukup membuat Lelah. Bahkan mereka yang tidak kuat akan merubah pikirannya untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju Pohon Mersawa.

    Misi tetap dilanjutkan, semangat kami terus menggebu-gebu supaya bisa melihat pohon terbesar di Taman Nasional Bukit Tigapuluh itu. Perjalanan berlanjut, tantangan tangga terjal tidak mematahkan semangat. Berbagai jenis kayu besar seperti Meranti dan lainnya yang ada di Bukit Tigapuluh itu juga sudah cukup untuk menyemangati. Apalagi sepanjangan perjalanan, disuguhkan dengan berbagai jenis tumbuhan hutan baik itu jenis pakuan, pepohonan dan juga jenis rotan.

    Pohon Mersawa itu berada di puncak Bukit Lancang, butuh waktu dua jam untuk sampai kesana dengan melewati jalan terjal sekitar antara empat puluh lima derajat hingga enam puluh. Selain jalannya terjal, medan untuk menempuh batu lumba-lumba disamping pohon mersawa itu juga penuh dengan kayu-kayu besar yang sudah tumbang untuk dilewati.

    Tidak sedikit orang-orang yang tumbang menaiki lintasan menuju pohon mersawa itu, bahkan harus dipapah mereka yang tak kuat agar perjalanan tidak terputus ditengah perjalanan. Meraka yang mengaku sudah pernah mendaki gunung, melewati jalan setapak ini akan kewalahan. Namun, ada enaknya perjalanan ditengah hutan ini, selama perjalanan tidak akan tersentuh matahari, semua rimbun ditutupi pepohonan besar.

    Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya sampai dilokasi tujuan. Tepat dipinggir lintasan satu pohon yang sangat besar menyambut tim ekspedisi. Pohon dengan lingkaran dua belas orang dewasa dari jenis Mersawa itu mampu membayar rasa capek dalam perjalanan.

    Sampai dipuncak bukit lancang, tidak saja disuguhkan pohon raksasa Mersawa, tetapi dipuncak bukit ini juga terdapat batu yang muncul kepermukaan seperti kepala ikan lumba-lumba. Sehingga batu itu disebut sebagai batu lumba-lumba. Selain batu dan pohon raksasa, dipuncak bukit itu akan dinikmati pemandangan berbagai jenis pohon raksasa lainnya. Berbagai jenis  pohon terdapat disitu, seperti jenis meranti, resak, mogang, tembusu dan ribuan jenis pohon lainnya.

    Sambil mengembalikan rasa capek dibawah pohon raksasa itu, kita juga akan mendengarkan berbagai suara jenis binatang hutan. Terutama suara jenis-jenis burung, sambil merebahkan diri diatas dedaunan kering menatap ujung pohon yang menyatu satu sama lain.  

    Pohon Raksasa Mersawa ini berumur sekitar dua ratus tahun lebih, dengan besaran diameter dua meter dan ketinggian empat puluh meter kata Andi petugas Balai TNBT. Selain Mersawa tersebut, masih banyak mersawa-mersawa raksasa lainnya yang menjadi tumbuhan di Bukit Tigapuluh, hanya saja mersawa satu ini memiliki ukuran paling besar dan paling tua. Kemudian ada juga pohon raksasa jenis lainnya yang menjadi flora TNBT.

    Kolam Renang Ditengah Hutan.

    Lelah usai menjelajahi hutan, kita bisa menyeburkan diri ke air dingin kolam renang ditengah hutan Bukit Tigapuluh tepatnya dilembah Bukit Lancang. Sambil menikmati beningnya air kolam, kita juga akan  menikmati indahnya air terjun dari pegunungan Bukit Lancang yang turun langsung kekolam renang.  

    Ya, kolam renang ditengah hutan Bukit Tigapuluh ini dibangun dibawah air terjun yang turun dari Bukit Lancang. Dengan ketinggian sekitar enampuluh meter, kita akan menikmati dinginnya air dan indahnya pemandangan dilembah perbukitan.

    Kolam ini sengaja dibangun untuk dinikmati  para wisata atau pecinta lingkungan yang akan menghabiskan waktu pekannya di hutan Bukit Tigapuluh. Dibangun dengan luas lima belas kali dua puluh meter dan kedalam sekitar satu setengah meter. Akan membuat kita semakin merasakan kesejukan di hutan Bukit Tigapuluh. Sambil menikmati makanan ringan dan berbaring dipinggiran kolam menambah ketenangan hati kita.

    Menjaga TNBT Dari Kehilangan dan Kerusakan Hutan

    Untuk tetap dapat menikmati hutan sebagai sumber udara bersih, sebenarnya bukan persoalan sulit di Indonesia. Karena Indonesia memiliki kekayaan hutan yang sangat luar biasa. Hanya saja ekploitasi hutan sangat tinggi di Indonesia. Sehingga terjadi kerusakan yang menyebabkan kurangnya kekurangan udara bersih.

    Agar tetap terjaga kelestarian hutan, maka menjadi tugas besar bagi Balai TNBT dari ancaman perambahan. "Ancaman yang paling berbahaya terhadap kerusakan di TNBT adalah perambahan Kawasan," ujar Fifin kepala Balai TNBT beberapa waktu lalu.

    Perambahan akan mengakibatkan dampak luar biasa terhadap ekologi melalui perubahan ekosistem, bentang alam, kehilangan sumberdaya genetik dan secara ekonomi berdampak pada monopoli lahan oleh manusia pemilik modal yang secara sosial budaya bertentangan dengan tatanan adat istiadat masyarakat asli.

    Maka perlu Antisipasi dan strategi Balai TNBT  agar ancaman tersebut tidak kenyataan. Salah satunya adalah Perlindungan. Perlindungan dimaskud dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan melalui Patroli, MMP, MPA, sosialisasi, anjangsana, dan Komunikasi dengan Pemerintahan RT/RW di Dusun, Desa, Kecamatan/Muspika, Pemda/Forkompimda(Instansi vertikal) dan NGO serta Swasta.

    Selanjutnya dengan pengawetan melalui pembinaan habitat  pemantauan dan evaluasi sumberdaya hayati endemik, dilindungi dan satwa prioritas nasional. Serta pemanfaatan yang lestari dan berkesinambungan terhadap HHBK unggulan dan memiliki nilai ekonomis melalui pemberian akses, pembinaan, pembukaan link pasar dan ekonomi kerakyatan melalui kerjasama baik Kemkon, Penguatan fungsi dan Pembangunan strategis, serta menggandeng pihak-pihak lain yang berkompeten baik dari Akademisi, Dunia Usaha, Pemerintah Daerah, Provinsi dan Pusat, Komunitas Masyarakat Global, Nasional dan Lokal.

    Sekilas Tentang Taman Nasional Bukit Tigapuluh

    Bukit Tigapuluh sebelum ditetapkan menjadi Kawasan Hutan Taman Nasional sebelumnya ditunjuk pada 5 Oktober 1995 dengan SK Menteri Kehutanan No: 539/Kpts-II/95, dengan luas 127. 698 Ha.  Kemudian pada tahun 2002 ditetapkan menjadi Kawan Hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh tepatnya pada tanggal 21 Juni 2002 berdasarkan SK Menteri Kehutanan     nomor 6407/Kpts-II/2002. seluas 144.223 Ha

    Secara geografis kawasan TNBT terletak pada koordinat 0040’ – 1025’ LS dan 102010’ – 102050’ BT. Sedangkan secara administrasi pemerintahan terletak pada 2 wilayah Provinsi yaitu Jambi dan Riau. Di Provinsi Jambi terletak di Kabupaten Tebo (24.518 Ha) dan kabupaten Tanjung Jabung Barat (11.520 Ha). Sedangkan di Provinsi Riau terletak di Kabupaten Indragiri Hulu (88.608 Ha) dan kabupaten Indragiri Hilir (19.577 Ha).

    TNBT Merupakan daerah perbukitan yang terpisah dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke Selatan Pulau Sumatera. Ketinggian berkisar 60 – 843 mdpl.
    Pada kawasan ini terbagi beberapa zona dengan tujuan untuk mengatur ruang di dalam kawasan taman  nasional sesuai kepentingan pengelolaan dan pemanfaatannya.

    Zonasi TNBT telah ditetapkan dengan SK  Dirjen KSDAE Nomor : SK 159/KSDAE/ Set/KSA.0/6/2016. Tanggal 9 Juni 2016