Pekanbaru (Beritaintermezo.com)-Sekretaris Daerah Provinsi Riau SF Haryanto marah-marah dan jengkel terhadap kontraktor yang mengerjakan proyek pengaspalan halaman Samsat dan Disepanda Riau. SF Haryanto Jengkel lantaran pihak kontraktor tidak menghargai undangan Sekdaprov dalam rapat evaluasi pengerjaan progres proyek.
Informasi dari sumber terpercaya, Sekdaprov marah besar dan meminta dinas Bina Marga Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) memutus kontrak kontraktor tersebut.
"Segera dievaluasi kontraktor itu, kalau tak bisa di bina diputus saja kontraknya," ujar sumber menirukan kemarahan sekdaprov.
Disebutkan Sekdaprov marah-marah terkait progres pekerjaan jalan lingkungan pengaspalan halaman kantor Samsat Gajah Mada, Kantor Dispenda Riau, Kantor Kesbangpolinmas, Kantor Pertambangan dan Sumberdaya Mineral serta Kantor Polsek Payung Sekaki.
Proyek yang dikerjakan CV Watashiwa Miazawa dengan konsultan pengawas PT Tri Karsa KSO CV Wira Andrinugraha dinilai lamban melakukan pekerjaan. Kontraktor mengerjakan proyek dengan separoh-separoh dan membiarkan pekerjaan tergantung-gantung padahal lokasi proyek merupakan kantor pelayanan yang setiap hari didatangi masyarakat.
Hal itu juga dibenarkan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Proyek tersebut Heri Sandi. Ia mengatakan kemarahan sekdaprov lantaran pihak kontraktor tidak menghadiri rapat Show Cause Meeting (SCM)-rapat pembuktian keterlambatan pekerjaan pada pekerjaan konstruksi yang bisa terjadi karena kendala dari segi materi/bahan-terkait evaluasi progres pekerjaan proyek yang jauh tertinggal.
"Pak Sekda marah karena kontraktor tidak menghadiri undangan rapat evaluasi pekerjaan," ujar Heri Sandi kepada Beritaintermezo.com, Jumat (9/9/2022).
Heri Sandi mengatakan, saat itu progres pekerjaan proyek belum mencapai 40 persen. Padahal Surat Perintah Kerja (SPK) dimulai sejak Tanggal 20 Juni 2022 lalu.
Lebih jauh dikatakan Heri Sandi, CV Watashiwa Miazawa merupakan Kontraktor berdomisili di Pasir Pengaraian Rokan Hulu ditetapkan sebagai pemenang melalui Pokja Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Riau.
Memenangkan tender dan nomor urut satu penawaran terendah atas proyek pengerjaan halaman lima kantor yaitu Samsat Gajah Mada, Kantor Dispenda Riau, Kantor Kesbangpolinmas, Kantor Pertambangan dan Sumberdaya Mineral serta Kantor Polsek Payung Sekaki. Dengan nilai Kontrak Rp3,7 Miliar dari Pagu anggaran Rp4,5 miliar.
* Lamban ProgresSejak dikeluarkan SPK pada 20 Juni 2022 lalu, kontraktor ini dinilai tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Pihak Konsultan dan dinas PUPR terus melakukan peringatan kepada kontraktor.
Menurut Heri Sandi, pihaknya sudah sering melakukan peringatan secara lisan agar progers proyek digesa. Namun kontraktor seakan mengindahkan peringatan lisan tersebut. Dinas Binamarga juga telah tiga kali melakukan Surat Peringatan (SP) kepada kontraktor.
"Kita sudah tiga kali menyurati kontraktor dan melakukan rapat evaluasi progres pekerjaan. Rapat evaluasi pertama masih dihadiri kontraktor. Namun pada rapat evaluasi kedua, dengan rencana evaluasi mengejar ketertinggalan pihak kontraktor tidak menghadirinya yang membuat sekda marah," ujar Heri Sandi.

Polsek Payung Sekaki
Dikatakan Heri Sandi, Dinas bina marga juga mengalami kesulitan berkoordinasi dengan kontraktor. Kontraktor tidak memiliki kantor di Kota Pekanbaru, otomatis koordinasinya hanya melakukan email,telepon genggam dan whatshap. Pihak kontraktor juga terkadang tidak merespon email maupun pesan whatshap dinas PUPR.
"Kita terus melakukan koordinasi, namun terkadang tidak direspon email atupun pesan whatshap," katanya.
Heri Sandi menambahkan, pihaknya terus mendorong agar pekerjaan proyek tersebut berjalan sesuai dengan waktu. Namun jika kontraktor tidak menyanggupinya akan dilakukan pemutusan kontrak.
"SP sudah sudah tiga kali kita lakukan, kalau mereka masih tetap tidak menyanggupi pekerjaan sesuai dengan target, kontrak kita putus," terang Heri.
Saat ini, progres proyek pekerjaan halaman lima kantor di Kota Pekanbaru baru mencapai 40 persen. Seperti di Kantor Samsat Gajah Mada, pekerjaan baru pengaspalan halaman. Sementara pengerasan belum selesai, walau alat berat terparkir setiap hari disana.
Demikian juga dengan kantor Dispenda Jalan Sudirman, pekerjaan pengaspalan juga belum selesai padahal alat berat juga setiap hari terparkir disana.
Sementara Kantor Kesbang Polinmas belum sedikit pun tersentuh. Kantor Pertambangan dan Sumberdaya energi baru pengantaran material. Sama halnya dengan kantor Polsek Payung Sekaki hanya terlihat material pasir dan kerikil.
* Kurang ModalKontraktor CV Watashiwa Miazawa dinilai tidak memiliki modal, sehingga lamban melakukan pekerjaan proyek. Kontraktor tersebut diduga tidak memiliki peralatan lengkap dan hanya melampirkan rekomendasi pendukung alat dari PT Adhi Karya. Demikian juga dengan ketersediaan bahan material seperti penyediaan aspal. Kontraktor ini diduga sedang mengalami kesulitan mencari suplier karena kekurangan modal.

Proyek di Samsat Gajah mada
PPTK Proyek Heri Sandi mengatakan kemungkinan perusahaan kewalahan mencari modal. Hal itu terlihat dari beberapa perusahaan suplier aspal yang gonta-ganti.
"Awalnya perusahaan ini merekomendasikan perusahaan pendukung PT Adhi Karya, tapi gagal. Sehingga kontraktor kewalahan mencari-cari suplier," kata Heri.
Tujuh Belas Kali Disurati KonsultanLambannya progres pekerjaan proyek di lima titik tersebut membuat konsultan pengawas jengkel. Sabar Sitorus selaku konsultan proyek dari PT Tri Karsa KSO. CV Wira Andrinugraha mengatakan pihaknya sudah menyurati tujuh belas kali perusahaan.
"Kita terus menyurati perusahaan agar progres proyek berjalan sesuai dengan kontrak. Tujuh belas kali kita surati, tiga belas merupakan instruksi dan empat Surat Peringatan (SP)," ujar Sabar ketika di konfirmasi Senin (12/9/2022).
Sabar juga menyebutkan perusahaan sudah di beri peringatan terakhir. Kalau tidak mengerjakan proyek sesuai kontrak maka kontrak bisa diputus.
"Show Cause Meeting (SCM) sudah berjalan dua kali dan surat peringatan sudah diberikan terakhir kalau dilakukan lagi SCM ketiga itu pemutusan kontrak lagi," ujarnya.
Namun sejak peringatan terakhir itu, pihak kontraktor kata Sabar telah mengejar ketertinggalan pekerjaan. Saat ini menurutnya progres pekerjaan sudah plus delapan persen.
"Saat ini progres pekerjaan sudah plus sekitar delapan persen. Mudah-mudahan kontraktor dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal agar tidak dilakukan pemutusan kontrak," kata Sabar.
Dikatakan Sabar, keterlambatan progres pekerjaan proyek adanya kewalahan terhadap perusahaan mencari suplier aspal. "Awalnya mereka membawa dukungan dari PT Adhi Karya, namun PT Adhi Karya tidak bersedia lagi. Kemudian dicari lagi perusahaan RMB. Terakhir kontraktor mencari aspal ke PT Vira Jaya. Namun PT Vira Jaya juga tidak bisa memberikan aspal seratus persen sesuai dengan kebutuhan. Karena perusahaan itu mengerjakan proyek mereka," Tambah Sabar.
* Bantah Kurang Modal Sementara itu Direktur CV Watashiwa Miazawa Azira Miazawa membantah tudingan PPTK dan konsultan. Pihaknya mengatakan tidak benar pihak konsultan menyurati sampai tujuh belas kali. Demikian juga denan PPTK yang melakukan SP sampai tiga kali. Pihaknya juga membantah kurang modal, namun keterlambatan progres proyek disebabkan oleh hal-hal lain bukan modal.
"Tujuh belas yang mana, mana ada sampai tujuh belas kali," ujar Azira kepada Beritaintermezo.com melalui telepon selularnya.
Namun pihaknya tidak menampik adanya Surat Peringatan baik dari Dinas Binamarga maupun Konsultan.

Terkait keterlambatan progres proyek dan tidak menghadiri SCM bersama Sekdaprov Riau, Azira menyebut dirinya sakit saat diundang dalam rapat SCM.
"Saya sakit, tak bisa menghadiri SCM. Namun dihari berikutnya kami hadir dan menjelaskan kendala dan progres proyek," kata Azira.
Terkait keterlambatan proyek kata Azira, pihaknya memang kewalahan mencari suplier aspal. Karena PT Adhi Karya yang awalnya memberi dukungan tidak bersedia lagi karena selisih harga. Demikian juga dengan PT RMB, awalnya bersedia namun terakhir tidak memberikan lagi. Hal itu juga disebabkan kenaikan harga BBM solar. Terakhir PT Vira Jaya yang bersedia menyuplai aspal, namun tidak seratus persen menyuplai sesuai kebutuhan karena Vira jaya juga mengerjakan proyek meraka.
"Kita mencari harga yang sesuai dengan proyek. Kalau kita paksakan dengan harga mahal rugilah perusahaan," terangnya.
Namun Demikian, Azira mengklaim progres proyek sudah surplus sampai saat ini. Pekerjaan proyek katanya sudah plus delapan persen. Bahkan Kantor Bapenda Sudirman sudah selesai dikerjakan, pekerjaan proyek sekarang sedang berlangsung di Kantor Polsek Payung Sekaki dan Dinas Pertambangan Sumberdaya Energi.***(tim)
Komentar Anda :